IPTEK dan Pengembangan Peradaban Islam

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pingasaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS al-Baqarah [2]: 164)

Siapakah yang mendominasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini? Siapakah yang menguasai perekonomian dan perdagangan dunia? Siapakah yang menjadi negara adikuasa di dunia ini? Jawabannya, bukan negara berpenduduk Muslim mayoritas, tapi negara Barat. Negara-negara Barat saat ini menjadi pelopor ilmu pengetahuan dan teknologi serta perdagangan. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi baru selalu berasal dari negara Barat, bukan negara-negara Muslim. Negara-negara Muslim hanya menjadi konsumen (pemakai) dari produk teknologi, bukan pencipta.

Kehidupan negara-negara berpenduduk Muslim mayoritas juga dihimpit kemiskinan. Kecuali Saudi Arabia, Kuwait, dan Malaysia, negara-negara Muslim, berdasarkan data yang dikeluarkan Bank Dunia dan IMF, dikategorikan sebagai negara miskin. Dua realitas ini, yaitu kemiskinan dan kebodohan, selalu mengakrabi kehidupan umat Islam.

Kehidupan umat Islam saat ini jika dibandingkan dengan kehidupan umat Islam di abad ke-10 sungguh sangat kontras sekali. Umat Islam di abad ke-10 mampu menjadi umat yang terbaik (khairu ummah) pada masanya. Saat itu umat Islam mampu menjadi pelopor dalam bidang ilmu pengetahuan dan menjadi “sumbu” peradaban dunia serta juga mempunyai kekuasaan politik yang terbentang luas.

Di masa yang disebut sebagai masa keemasan Islam ini lahir pemikir-pemikir Muslim yang sampai saat ini namanya masih harum, misalnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd serta Ibnu Khaldun. Ibnu Sina adalah pelopor dalam bidang ilmu kedokteran yang konon buku karangannya fi ‘ilmi at-Thib (tentang ilmu kedokteran) sampai saat ini menjadi rujukan ilmu kedokteran. Ibnu Rusyd disebut masyarakat Barat sebagai “al-Muallim ats-Tsani” (the second teacher), pelanjut filsafat Aristoteles. Sedangkan Ibnu Khaldun adalah pelopor ilmu sosiologi. Buku karangannya yang berjudul al-Muqaddimah disebut sebagai buku sosiologi yang pertama ada di dunia.

Mengapa Umat Islam Mundur
Kemegahan peradaban Islam mulai surut dengan jatuhnya Baghdad di tangan pasukan Mongol. Pasukan Mongol saat meruntuhkan kekuasaan Baghdad membakar habis buku-buku hasil penalaran otak kaum muslim. Menurut A.J. Toynbee, pembakaran buku-buku di perpustakaan Baghdad membuat umat Islam mundur dua abad ke belakang.

Tapi menurut intelektual asal Pakistan Fazlur Rahman, penyebab fundamental kemunduran umat Islam adalah perubahan pola pikir. Setelah masa ini, menurut Fazlur Rahman, umat Islam hanya mengabadikan hasil pemikiran umat Islam masa lalu dan tidak berusaha menggali serta mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga perkembangan pemikiran umat Islam mengalami stagnasi (jumud).

Perubahan lain yang terjadi di tubuh umat Islam setelah kejatuhan Baghdad adalah pandangan terhadap Alquran. Kalau umat Islam di abad ke-10 membaca Alquran dilanjutkan dengan penelitian atas fenomena alam yang ditunjuk Alquran, umat Islam setelahnya membaca Alquran tidak diikuti dengan penelahan atas fenomena alam yang dibicarakan Alquran, tapi sebatas mengimaninya saja. Pembacaan terhadap Alquran hanya ditujukan untuk mendapatkan pahala, tidak lebih.

Inilah penyebab kenapa umat Islam mengalami kemunduran dalam bidang ilmu pengetahuan. Sedangkan kemiskinan menjalar ditubuh umat Islam karena paham yang menyatakan bahwa baik-buruknya nasib umat Islam adalah suratan takdir Ilahi. Kemiskinan dianggap sebagai takdir Ilahi yang tidak bisa diubah. Padahal dalam sebuah ayat dinyatakan perubahan akan terjadi jika umat Islam mau berusaha merubahnya (QS ar-Ra’d [13]: 11).

Kembali ke masalah ilmu pengetahuan, sebenarnya Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir dan merenungi fenomena alam. Kita bisa melihat dari banyak ayat-ayat Alquran yang memerintahkan umat Islam untuk selalu berpikir, meneliti dan merenungi fenomena alam. Dari olah pikir dan renungan fenomena alam inilah umat Islam akan menemukan sebuah ilmu pengetahuan yang baru yang bisa membangkitkan peradaban. Tapi ironis, ternyata yang melaksanakan perintah berpikir dan merenungi kekuasaan Allah yang “terjelma” di jagad raya adalah non muslim.

Saat ini umat Islam hanya membaca Alquran tidak disertai pemahaman dan penelahaan atas makna kandungannya. Sikap ini sangat dikecam oleh Rasullulah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Hibban Rasulullah bersabda, “Telah diturunkan kepadaku satu ayat tadi malam. Celakalah bagi orang yang membacanya, tetapi tidak mau memikirkan (maksudnya)-nya, celaka baginya.” (HR Muslim & Ibnu Hibban).

Integrasi Imu
Keadaan ini semakin diperparah dengan pola pikir sebagian besar umat Islam yang mendikotomikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum, termasuk sains dan teknologi. Umat Islam menomorduakan sains dan teknologi. Umat Islam menganggap hanya mempelajari ilmu agama yang mendapatkan pahala, sedangkan belajar ilmu pengetahuan umum tidak mendapatkan pahala. Padahal segala usaha yang diniatkan tulus untuk mencapai keridhaan Allah dinilai pahala di sisi-Nya.

Perubahan pola pikir ini atau mengintegrasikan Islam dan ilmu pengetahuan adalah solusi mengeluarkan umat Islam dari keterpurukan dan mengejar ketertinggalannya dari masyarakat Barat. Penghilangan dikotomi antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan Ilmu Agama sebenarnya bisa dilakukan dengan menelaah dan mempelajari kembali ayat-ayat Alquran yang menyeru kaum Muslim untuk mempelajari apa yang ada di langit dan di bumi. Sedangkan mengangkat keterpurukan umat Islam dalam bidang ekonomi bisa dilakukan dengan melaksanakan perintah Alquran kepada umat Islam untuk senantiasa memanfaatkan alam. Berikut ayat yang memerintahkan dua hal tersebut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS Ali Imran [3]: 190)

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…” (QS Yunus [10]: 101)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya),” (QS al-Hijr [15]: 16)

Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada orang-orang yang mengetahui,” (QS al-An’am [6]: 97)

“Dan kami telah ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…” (QS al-Hadid [57]: 25)

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang bersampingan, dan kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain, tentang rasa (dan bentuknya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”. (QS ar-Ra’d [13]: 4)

“Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia! kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itulah keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat yang menyembuhkan bagi bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan,’” (QS an-Nahl [16]: 68-69)

Perintah dari ayat di atas itulah yang diabaikan umat Islam dan dipraktikkan oleh masyarakat Barat sehingga umat Islam mengalami kemunduran dan Barat mencapai kemajuan. Untuk menghibur diri, umat Islam menyatakan kemajuan yang dicapai Barat saat ini tidak lepas dari bantuan umat Islam masa lalu. Hal ini memang benar, tapi realitas umat Islam saat ini seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa romatisme masa lalu tidak akan merubah keadaan. Umat Islam saat ini akan bangkit jika giat melakukan mempelajari ilmu pengetahuan dan memanfaatkan sumber daya alam. Mustahil umat Islam maju tanpa melakukan dua hal ini.
Di abad ke-10 umat Islam maju karena memperlajari ilmu pengetahuan Yunani untuk kemudian mengembangkan dan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam. Begitu juga umat Islam saat ini, mereka harus belajar dari Barat karena di sanalah sumber Ilmu pengetahuan sebagaimana Yunani dulu menjadi sumber ilmu pengetahuan.

Umat Islam jangan menganggap segala yang datang dari Barat sebagai hal yang berbahaya bagi agama Islam dan umatnya. Yang diperlukan adalah sikap selektif; membuang yang buruk dan mengambil yang baik. Kemajuan yang dicapai Barat haruslah dipelajari, bukan dimusuhi. Sikap memusuhi apa yang datang dari Barat akan kontraproduktif bagi kemajuan umat Islam.
Wallahu a’lamu bis shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: