Globalisasi dan Ancaman Keamanan Modern

Berakhirnya abad ke-20 merupakan permulan dari milenium baru. Milenium ketiga ini ditandai dengan berbagai fonemena fundamental yang mengubah paradigma lama dalam wacana politik, keamanan, dan pertahanan. Fenomena itu adalah pesatnya perkembangan teknologi, demokratisasi, dan interdependensi hubungan antarbangsa/negara.

Dengan globalisasi sebagai impuls utamanya, fenomena tersebut telah memperakporandakan kerangka lama hubungan antarnegara dan mengubah pola hubungan domestik antarnegara. Perubahan kerangka hubungan antarnegara itu pada akhirnya mengubah pandangan tentang apa yang membahayakan atau mengancam keamanan negara dan masyarakatnya.

Konsep Keamanan
Pada masa lalu konsep ancaman keamanan lebih diarahkan pada apa yang datang dari luar—yang umumnya bersifat militeristik—seperti invasi, penyusupan oleh negara lain, perang intelijen, dan lain sebagainya. Karena itu, dalam pandangan tradisional ini, keamanan diartikan sebagai sebuah kondisi terbebasnya negara dan penduduknya dari serangan militer yang berasal dari lingkungan ekternal.

Walter Lippmann merangkum kecenderungan ini dengan menyatakan bahwa suatu bangsa berada dalam keadaan aman selama bangsa itu tidak dapat dipaksa untuk mengorbankan nilai-nilai yang diaggapnya vital. Dalam kaitan itu pula, jika dapat menghindari perang atau jika terpaksa melakukannya, dapat keluar sebagai pemenang.

Karena itu, seperti yang diutarakan oleh Arnold Wolfers, setiap negara berlomba-lomba memperkuat armada milternya untuk menangkal (to deter) atau mengalahkan (to defeat) serangan yang datang. Bisa disimpulkan bahwa dalam pandangan tradisional negara yang baik adalah negara yang mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya dari ancaman luar.
Saat ini, dengan memperhatikan perkembangan yang ada, konsep keamanan berkembang dengan dinamis dan bermakna lebih luas. Keamanan bukan hanya meliputi aspek militer saja namun juga meliputi aspek non militer. Dalam buku Rethinking Security After the Cold War, Barry Buzan (1997) mengatakan bahwa militer bukan hanya satu-satunya aspek penting dalam keamanan, namun terdapat empat aspek non militer, yakni politik, lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Pendapat Buzan di atas senada dengan konsep keamanan yang didefinisikan oleh PBB. Sebagaimana yang dilansir dalam laporan UNDP (United Nation Development Program) pada tahun 1993, menurut PBB, konsep keamanan hendaknya diubah dari konsep keamanan yang menitikberatkan pada keamanan negara menuju keamanan masyarakat, dari teritorial ke keamanan pangan, keamanan kerja, dan keamanan lingkungan hidup. Konsep keamanan ini disebut sebagai konsep keamanan non-tradisional.

Ancaman Keamanan Non-Tradisional
Seperti halnya konsep keamanan yang mengalami pelebaran, aksi kejahatan pun berkembang dari masa sebelumnya. Jika pada masa lalu aksi kejahatan tidak mempunyai jaringan di negara lain, saat ini aksi kejahatan lebih terorganisasi dan mempunyai jaringan lintas negara. Kejahatan lintas negara (transnasional) yang disebut juga sebagai ancaman keamanan non-tradisional banyak macamnya. Dilihat dari motif yang melatarbelakangi, ancaman keamanan non tradisional bisa dipilah menjadi dua.
Pertama, kejahatan yang timbul untuk mendapatkan keuntungan finansial yang sangat besar. Seperti lalu lintas obat terlarang (drug), perompakan dan pembajakan bersenjata di laut, pencucian uang (money laundering), kejahatan dunia maya (cyber crime), penyelundupan senjata, perdagangan wanita dan anak-anak (women and children trafficking) yang hampir kesemuanya merupakan kejahatan lintas negara (transnational crime).

Mengenai kejahatan narkotika, pada tahun 2005 Malvin Levisky, anggota Lembaga Internasional Pengawasan Narkotika yang bernaung di bawah PBB, mengatakan bahwa perdagangan durgs melahirkan 200 juta pecandu heroin dan ganja. Malvin Levisky menambahkan setiap tahun sekitar 100 ribu orang meninggal dunia akibat kecanduan heroin.
Sementara untuk perdagangan senjata, PBB melaporkan bahwa hanya 18 juta (sekitar 3 persen) dari sekitar 550 senjata ringan dan kaliber kecil yang digunakan oleh pemerintah, militer, polisi. Dalam satu dasawarsa terakhir, senjata ringan dan kaliber kecil telah memperburuk 46 dari 49 konflik di dunia, pada tahun 2001 diperkirakan senjata itu bertanggungjawab terhadap 1000 kematian setiap harinya; 80 persen korban adalah wanita dan anak-anak.

Kedua, terorisme. Berbeda dengan kejahatan transnasional lainnya, aksi terorisme tidak dilakukan untuk memperoleh keuntungan finansial, tapi dilatarbelakangi oleh tujuan politik seperti perlawanan atas dominasi negara tertentu atau perlawanan atas pola hubungan internasional yang dirasa tidak adil.

Sebelum aksi 11 September 2001, kejahatan terorisme tidak menjadi fokus perhatian dunia. Tapi runtuhnya WTC yang kemudian diiringi dengan ledakan-ledakan bom di pelbagai negara, terorisme menjelma menjadi musuh dunia nomor wahid. Bangsa ini pun tidak luput menjadi korban. Beberapa kali negeri ini diguncang aksi terorism

Bermula dari penangkap terhadap pelaku bom Legian, Bali bangsa ini akhirnya sadar bahwa tudingan yang dikemukakan oleh pihak luar tentang adanya jejaring terorisme internasional di negeri benar adanya. Sebelum Bom Bali, menurut Ketua Desk Anti-Teror Ansyad Mbai, pemerintah tidak menyadari adanya jaringan terorisme lintas negara di negeri ini.
Ancaman kejahatan lintas negara di atas, mustahil bisa diredam tanpa ada kerjasama antarnegara. Sementara untuk meredam kejahatan terorisme, kerjasama antarnegara tidaklah cukup tanpa menghilangkan sumber lahirnya terorisme, seperti kemiskinan, tatanan global yang tidak adil, dan pemahaman atau penafsiran yang sempit terhadap ajaran agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: