Agama dan Pendidikan

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Agama adalah sumber motivasi dan inspirasi tingkah laku seseorang sebagai individu atau dalam pergaulan sosial yang lebih luas. Karena agama pada dasarnya berintikan ajaran-ajaran moral sebagai pandangan hidup seseorang yang tak bisa lepas dari lingkungan masyarakat sekitarnya. Begitu pula keadaan obyektif sosial pada hakikatnya merupakan ekspresi umum dari situasi subyektif warga masyarakat itu sendiri.

Agama mempunyai fungsi ganda, yaitu, pertama sebagai motivasi unutk menumbukan etos yang positif (amar ma’ruf) dan mencegah hal negatif (nahi munkar). Sedangkan di sisi lain agama berfungsi psikologis untuk memberikan ketenteraman tatkala batin seseorang sedang goncang, tatakala hati sedang bimbang, dan tatkala hawa nafsu sedang bergejolak untuk mencari kepuasan dengan melanggar kewajiban dirinya. Agama berfungsi pula sebagai hidayah. Agar orang tidak begitu saja melanggar rambu-rambu moral. Agama juga memberi pegangan agar seseorang tak hanyut dalam lingkungan negatif yang melingkupi dirinya, di mana tidak jelas yang salah dan mana yang benar.

Sebenarnya, di negeri ini nilai-nilai dan ajaran agama telah merasuk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sistem pembangunan yang merupakan model khas Indonesia ini merupakan perwujudan konkret dari Negara Pancasila yang bukan negara agama dan bukan pula negara sekuler. Pembangunan dengan model ini harus dilakukan oleh manusia Pancasilais yang sejak dini sudah dibekali dengan kemampuan untuk maju dan mandiri.

Pendidikan
Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun manusia Indonesia seutuhnya, yaitu yang beriman dan bertakwa kepda Tuhan dan berbudi pekerti luhur serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan tinggi merupakan tempat dimana gagasan, pemikiran, dan ilmu pengetahuan dapat diuji secara jujur, terbuka, dan leluasa. Di samping itu yang tak bisa dilepas adalah pedoman moral sebagai aturan mengenai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang merupakan pedoman moral bagi pendidik dan yang dididik.

Terlihat jelas kesejajaran antara nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan dan nilai yang bersumber dari ajaran agama. Kejujuran akademis merupakan nilai sentral dalam kehidupan sebuah lembaga pendidikan. Karena itu, antara etika akademis dan etika yang bersumber pada nilai agama sesungguhnya terdapat hubungan yang menguatkan. Sejalan dengan itu, sejarah menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang bergengsi pada umumnya dilahirkan oleh umat yang beragama. Einstein pernah berkata bahwa “Science without religion is blind, and religion without science is lame.”

Pembinaan mental dan moral di lingkungan pendidikan menuntut dua hal yang sangat mendasar. Pertama, metode pendidikan dialogis yang membuka seluas-luasnya kesempatan untuk bertanya, betapapun kritisnya pertanyaan tersebut. Kedua, keteladanan konkret yang mencerminkan kualitas mental dan moral yang tinggi dari semua pihak yang terlibat dalan penyelenggaraan pendidikan. Jika kedua hal tersebut dapat dipenuhi maka lembaga pendidikan akan dapat benar-benar berfungsi sebagai penggodokan kader-kader bangsa yang selain cerdas, kritis, kreatif juga sekaligus bermoral.

Selain itu yang tak bisa dilepaskan adalah pusat-pusat pendidikan yang lain yaitu keluarga maupun lingkungan sosial masyarakat. Sejauh apapun pengembaraan intelektual yang ditempuh, ia tak pernah terlepas dari jati diri sebagai bangsa yang dipandu oleh nilai-nilai luhur Pancasila dan ajaran agama.

Sejak awal kita bersepakat untuk memanusiawikan pembangunan kita. Kita tidak ingin menjadi manusia mesin tanpa jiwa dan kalbu, dan sekadar menjadi masyarakat teknologis semata. Kita tak ingin terjebak dan terperosok ke dalam penderitaan dan kesalahan bangsa lain dalam membangun masa depan. Masa depan yang diinginkan rakyat adalah masyarakat yang berkeseimbangan antara kesejahteran ekonomi dan kesejahteraan batinnya.

Pembangunan akhirnya bertemu dengan pelakunya, yakni sumber daya manusia. Implementasi etika dalam pembangunan juga bertemu dengan isu sumber daya manusia sebagai pelaku pembangunan. Pembangunan manusia sebagai insan tercermin dalam nilai-nilai antara lain beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama dan ilmu, bersikap amanah, sadar akan harga diri bangsanya, memiliki kepercayan diri, cerdas, terbuka, demokratis, dan memiliki kesadaran berbangsa dan bernegra.

Adapun pembangunan manusia sebagai sumber daya pembangunan menekankan manusia sebagai pelaku yang memiliki etos kerja produktif, keterampilan, kreatif, disiplin, profesionalisme serta memiliki kemampuan untuk memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang berwawasan lingkungan maupun kemampuan manajemen.

Kita menyadari bahwa kualitas manusia sebagai insan menjadi perhatian yang pertama dan utama dalam meningkatkan sumber daya manusia, karena menjadi dasar dari kehidupan dirinya. Keberhasilan pembangunan manusia sebagai insan seutuhnya akan menentukan keberhasilan membangun manusia Indonesia pada sisi lainnya, yaitu pelaku yang tangguh dalam membangun diri dan lingkungannya atas dasar etika moral dan akhlak yang mulia.

Pembangunan bangsa, apabila di tangan orang yang tak bertanggung jawab dapat membahayakan manusia Indonesia. Oleh karena itu, watak, mental, dan moral mutlak harus selalu berjalan di depan membimbing dan memberi arah kepada segala kemampuan yang dikerahkan dalam melaksanakan pembangunan negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: